Banyak orang yang bilang bahwa masa SMA
adalah masa-masa yg paling berkesan dalam
kehidupan sekolah. Tapi setelah aku menjalani setahun masa SMA ku,
pernyataan itu aku pikir salah dan terlebih lagi pernyataan tersebut telah
meracuni pola berpikirku, kenapa aku berpikir seperti itu. Misalnya saja kita
ambil contoh dalam hal kebutuhan, kalau pada jaman SMP kebanyakan kita hanya
butuh kebutuhan sekolah saja, lain halnya pada zaman SMA kebanyakan kita tidak
cukup hanya dengan kebutuhan sekolah saja kita juga perlu kebutuhan tersier,
contohnya smart phone, laptop, bahkan sampai kendaraan bermotor.
Tentu saja itu
sangat memberatkan para orang tua siswa masing-masing kecuali kalau orang tua
siswa tersebut memang kaya. Tapi kebanyakan di sekolahku hampir semua siswa
mempunyai salah satu ataupun semua dari kebutuhan tersier tersebut, entah
memang orang tua mereka kaya atau orang tua mereka sebenarnya pas-pasan tetapi
sang anak terus memaksa mereka menuruti kemauannya. Dan selanjutnya dalam hal
bersosialisasi, berlatar belakang yang sudah aku jelaskan sebelumnya maka
hasilnya para siswa dibedakan menurut tingkat terpenuhinya kebutuhan tersier,
ada yg hanya mempunyai smart phone, ada yang mempunyai smart phone dan laptop,
ada yang mempunyai smart phone dan kendaraan bermotor, dan bahkan ada yang
memiliki ketiga-tiganya. Karena perbedaan itulah para siswa-siswa kerap kali
lebih memilih-milih menjalin hibungan pertemanan dg sesama siswa yg statusnya
memiliki kebutuhan tersier yang sama dg mereka
masing-masing, sedangkan kalau kita di jaman SMP maupun SD kita tidak
pernah menghiraukan hal seperti itu. Jangankan hanya melihat terpenuhinya
kebutuhan tersier tersebut, mereka juga memilih-milih soal status pekerjaan
mereka, kepintaran mereka, dan yang paling parah mereka membeda-bedakan menurut
penampilan fisik mereka. Dan yang menjadi salah satu korban adalah aku, karena
aku tidak mempunyai smart phone, laptop, maupun kendaraan bermotor. Dan aku
juga tidak terlalu menonjol di kelas, nilai ujian pun aku tidak pernah mendapat
nilai diatas 75 tapi aku juga tidak terlalu bodoh nilai ujianku tidak pernah
dibawah 60. Dan yang lebih parah lagi penampilan fisikku juga tidak menonjol
daripada yang cowok lain. Dampak dari perbedaan antar siswa tersebut paling
berdampak pada saat pembagian kelompok tugas. Ketika itu terjadi dunia serasa
pecah menjadi dua, dan aku menjadi potongan terkecil dari dunia itu yang
disebut dunia ketiga. Maka dari itu pernyataan yang menyatakan bahwa masa SMA
adalah masa yang terbaik dalam kehidupan sekolah menurutku itu adalah omong
kosong.
Namaku adalah Rudi Okika dan panggilanku Kika duduk di
kelas 2 SMA, aku berada dikelas 2-E, jumlah semua murid dikelasku berjumlah
43 siswa, 21 berjenis kelamin laki-laki dan yang lainnya berjenis kelamin
perempuan. Asalnya jumlah siswa di kelasku adalah 45 orang, tapi 2 siswa
laki-laki pindah ke sekolah lain. Karena nasib mereka seperti aku, tersisihkan
karena terbatasnya masalah harta, kemampuan, dan penampilan. Tempat dudukku
berada di paling pojok barat dekat jendela. Kenapa aku memilih duduk di pojokkan, karena aku muak bersosialisasi dengan teman sekelas karena alasan yang telah aku jelaskan sebelumnya. Disamping maupun didepan tempat
dudukku hanya ada bangku kosong, entah itu sebuah kebetulan ataupun karena
mereka ingin mengasingkan aku dari kehidupan kelas. Setiap waktu kosong sekolah
baik waktu istirahat maupun ketika jam kosong tidak ada guru yang masuk aku
selalu memandangi keluar jendela tanpa ada yang menemani dan tidak bicara
apapun karena memang tidak ada yang diajak bicara. Aku tidak pernah
menghiraukan cemoohan yang keluar dari mulut teman sekelasku sendiri tentang
kuperlah, gilalah, autisme lah, tidak pandai bersosialisasi lah,idiot lah,
bahkan ada yang bilang kalau aku bukan masuia dari dunia ini, tapi yang pasti
aku bangga menjadi diriku sendiri.
NANTIKAN SCENE SELANJUTNYA YA ^_^
NANTIKAN SCENE SELANJUTNYA YA ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar