Senin, 13 Oktober 2014

PENGENALAN TOKOH



Banyak orang yang bilang bahwa masa SMA adalah masa-masa yg paling berkesan dalam  kehidupan sekolah. Tapi setelah aku menjalani setahun masa SMA ku, pernyataan itu aku pikir salah dan terlebih lagi pernyataan tersebut telah meracuni pola berpikirku, kenapa aku berpikir seperti itu. Misalnya saja kita ambil contoh dalam hal kebutuhan, kalau pada jaman SMP kebanyakan kita hanya butuh kebutuhan sekolah saja, lain halnya pada zaman SMA kebanyakan kita tidak cukup hanya dengan kebutuhan sekolah saja kita juga perlu kebutuhan tersier, contohnya smart phone, laptop, bahkan sampai kendaraan bermotor.
Tentu saja itu sangat memberatkan para orang tua siswa masing-masing kecuali kalau orang tua siswa tersebut memang kaya. Tapi kebanyakan di sekolahku hampir semua siswa mempunyai salah satu ataupun semua dari kebutuhan tersier tersebut, entah memang orang tua mereka kaya atau orang tua mereka sebenarnya pas-pasan tetapi sang anak terus memaksa mereka menuruti kemauannya. Dan selanjutnya dalam hal bersosialisasi, berlatar belakang yang sudah aku jelaskan sebelumnya maka hasilnya para siswa dibedakan menurut tingkat terpenuhinya kebutuhan tersier, ada yg hanya mempunyai smart phone, ada yang mempunyai smart phone dan laptop, ada yang mempunyai smart phone dan kendaraan bermotor, dan bahkan ada yang memiliki ketiga-tiganya. Karena perbedaan itulah para siswa-siswa kerap kali lebih memilih-milih menjalin hibungan pertemanan dg sesama siswa yg statusnya memiliki kebutuhan tersier yang sama dg mereka  masing-masing, sedangkan kalau kita di jaman SMP maupun SD kita tidak pernah menghiraukan hal seperti itu. Jangankan hanya melihat terpenuhinya kebutuhan tersier tersebut, mereka juga memilih-milih soal status pekerjaan mereka, kepintaran mereka, dan yang paling parah mereka membeda-bedakan menurut penampilan fisik mereka. Dan yang menjadi salah satu korban adalah aku, karena aku tidak mempunyai smart phone, laptop, maupun kendaraan bermotor. Dan aku juga tidak terlalu menonjol di kelas, nilai ujian pun aku tidak pernah mendapat nilai diatas 75 tapi aku juga tidak terlalu bodoh nilai ujianku tidak pernah dibawah 60. Dan yang lebih parah lagi penampilan fisikku juga tidak menonjol daripada yang cowok lain. Dampak dari perbedaan antar siswa tersebut paling berdampak pada saat pembagian kelompok tugas. Ketika itu terjadi dunia serasa pecah menjadi dua, dan aku menjadi potongan terkecil dari dunia itu yang disebut dunia ketiga. Maka dari itu pernyataan yang menyatakan bahwa masa SMA adalah masa yang terbaik dalam kehidupan sekolah menurutku itu adalah omong kosong.
Namaku adalah Rudi Okika dan panggilanku Kika duduk di kelas 2 SMA, aku berada dikelas 2-E, jumlah semua murid dikelasku berjumlah 43 siswa, 21 berjenis kelamin laki-laki dan yang lainnya berjenis kelamin perempuan. Asalnya jumlah siswa di kelasku adalah 45 orang, tapi 2 siswa laki-laki pindah ke sekolah lain. Karena nasib mereka seperti aku, tersisihkan karena terbatasnya masalah harta, kemampuan, dan penampilan. Tempat dudukku berada di paling pojok barat dekat jendela. Kenapa aku memilih duduk di pojokkan, karena aku muak bersosialisasi dengan teman sekelas karena alasan yang telah aku jelaskan sebelumnya. Disamping maupun didepan tempat dudukku hanya ada bangku kosong, entah itu sebuah kebetulan ataupun karena mereka ingin mengasingkan aku dari kehidupan kelas. Setiap waktu kosong sekolah baik waktu istirahat maupun ketika jam kosong tidak ada guru yang masuk aku selalu memandangi keluar jendela tanpa ada yang menemani dan tidak bicara apapun karena memang tidak ada yang diajak bicara. Aku tidak pernah menghiraukan cemoohan yang keluar dari mulut teman sekelasku sendiri tentang kuperlah, gilalah, autisme lah, tidak pandai bersosialisasi lah,idiot lah, bahkan ada yang bilang kalau aku bukan masuia dari dunia ini, tapi yang pasti aku bangga menjadi diriku sendiri.


NANTIKAN SCENE SELANJUTNYA YA ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar